Langsung ke konten utama

Postingan

SEBUAH TANGAN

SEBUAH TANGAN Saat tirai disibakkan tertutup Lampu yang tersorot Tangan-tangan sudah terbungkus Terdengar bunyi detak patah-patah         Seluruh mata dan fikiran         Hanya punya satu tujuan Segalanya telah dibersihkan Demi semua keamanan         Tinggalah terbaring pasrah         Bukannya menyerah Tapi masih berdetak         Hanya menyerahkan segalanya         Pada sebuah tangan yang terberkati

TIDAK SAMA

TIDAK SAMA Aku berbincang dengan cerianya Karena kutahu dia temanku sejak lama Aku terus saja berbicara Memberikan seribu pertanyaan padanya           Aku terus saja tertawa           Diapun memberikan pantulan yang serupa           Aku tak memikirkan apapun saat bersamanya           Aku terbawa dalam suasana Hingga lelah datang menghampiri Saling terucap perpisahan manis menggelikan hati Hingga kita terpisah jauh sendiri Baru kutahu pendapat tentang diri ini           Maafkan aku yang tak mengenalimu           Betapa bodohnya aku ini           Tentu saja dengan berjalannya waktu           Kau ta...

PERJALANANNYA

PERJALANANNYA Dia berjalan dibumimu Mencari arti kehadiranmu Batu-batu kerikil tersebar dijalannya Sudah sakit kakinya Ditambah pula nanah dan darah yang teramat perih Air matanya bercampur peluh Mengalir deras           Mereka yang melihatnya mengagungkannya           Katanya dia hebat, terhebat Dia malu, tak pantas katanya Karena dia tahu hanya engkau yang memilikinya           Dia masih berjalan Tapi jalannya penuh kelopak mawar           Hingga ia harus berhenti di ujung jalan

TERDENGAR

TERDENGAR Dia memang tidak menyentuh tubuhku Tapi perkataannya masuk ketelingaku, dan menusuk tepat di jantungku Membuat tubuhku mati Air mata ini tak terasa menetes Air mata ini mungkin bisa menyembuhkan luka yang menganga lebar Tapi tidak untuk menyatukan hati yang telah patah           Aku sadar sebaiknya aku mulai mengunci dan menggemboknya           Tak ingin kurasakan penderitaan itu Yang menerima memanglah sakit Tapi yang memberi lebih terhantui           Tak ingin ada hati yang patah karena diri ini

MASIH MENUNGGU

MASIH MENUNGGU F Aku menunggu dalam kecemasan, penuh harap Aku bingung apa yang harus kulakukan? Pada siapa aku bertanya?         Batu ini menggiggil kedinginan bersamaku dimalam hari         Rumput ini merintih bersamaku disengat teriknya mentari Tak datang merpati, membawa sepucuk surat Angin malam berhembus kosong, sunyi Teleph o ne ini tak juga berdering         Apakah mungkin merpatinya terkunci dalam sangkar?         Mungkin pula anginnya salah berhembus         Ataukah telephone ini sudah rusak? Sampai sekarang aku masih menunggu Lalu sampai kapan aku akan menunggu?