Langsung ke konten utama

Postingan

Bunga api Vs Bulan

Bunga api Vs Bulan fitriani_31122017 Dewi malam kembali menduduki singasananya seperti biasa, tak peduli apakah ini hari istimewa ataukah hari naas penuh duka. Ia menjadi saksi atas apa yang terjadi disini. Dengar! dengarlah cerita yang ia sampaikan lewat angin malam yang berhembus lemah namun syahdu membawa dingin, menyentuh tanah, menembus tembok-tembok rumah, menggoyangkan ranting-ranting kurus, menggugurkan daun yang tak berpegang erat, hingga sampai ketelinga-telinga para manusia.           Ditengah kota metropolitan, diantara tingginya tembok-tembok gedung, ada sebuah rumah renta berdindingkan kayu-kayu bekas siasa proyek pembangunan, beratapkan jerami, karena tak mampu membeli atap genting, apalagi seng yang mahal harganya, bila hujan datang, ia harus menepi di sudut, di pojok-pojok rumahnya karena atap rumahnya yang bolong-bolong. Dan keesokan harinya harus ia tambal dengan jerami baru, kalau ia tak mau esok terulang hal yang sama....

Foto Keluarga (cerpen)

Sebuah Foto Keluarga sebuah cerpen by Fitriani Didalam sebuah rumah yang minimalis, dua orang muda-mudi sedang bercengkrama, dari kedekatan itu terlihat kalau mereka adalah sepasang suami istri. “Mas foto keluarga Mas, disimpan dimanaya? Tanya Linda pada suaminya, mendengar pertanyaan istrinya Rizki kembali teringat kenangannya akan foto keluarga itu, ia tersenyum. “Mas simpan difoto album nikahan kita” jawabnya mengingat dimana ia menyimpan foto keluarganya, “foto albumnya ada diperpustakaan, dilemari paling kanan, di rak ketiga dari atas” jawabnya memberikan informasi yang lebih spesifik tepatnya letak foto keluarga itu. Dirumahnya yang minimalis ini Rizki menghususkan sebuah ruangan yang diperuntukkan untuk solat yang sekaligus ia modifikasi sebagai perpustakaan mini dirumahnya, karena memang kegemarannya membaca buku, koleksi bukunnya terbilang banyak, mulai dari buku-buku bacaan yang memang seharusnya ia miliki sebagai mahasiswa semester 4, ditambah lagi buku referensi yang ...

2 gelas

dua gelas kaca indah, yang berisikan air, aku bisa melihat apa yang ada di baliknya. Gelas-gelas itu mengeluarkan uap yang sangat indah, seolah-olah ia sedang bernafas, nafas yang dihembuskan dengan lembut Ia juga memiliki embun-embun yang menetes seperti air hujan. Entahlah, dia sedang menangis atau ketakutan yang membuatnya berkeringat seperti itu. Keduanya tampak sama Tetapi, begitu tampak dari dekat, keduanya benar-benar berbeda Seperti mentari didalam bongkahan es 15072017

tunggu saja

Lihat apa yang aku lakukan sekarang? Aku menunggu dan masih setia menunggu Jangan bilang aku menunggu karena sebuah janji yang terlanjur terikat Akan datang suatu saat nanti Mungkin aku tahu jawabannya… Tidak… jawabanya, pasti tidak… Aku, tapi aku masih menunggu Entahlah aku tidak mengerti… Aku sedih, marah, tapi aku masih memiliki harapan Dari 100%, setidaknya aku memiliki 5% Itu masih terlalu banyak, cukup 1% saja Aku memegangnya erat Mungkin ini apa yang orang bilang dengan Menantikan sebuah keajaiban 22042017

saat ini

Disaat aku menjadi kami Disaat kami menjadi kita Disaat tangisan adalah senyuman Disaat senyuman membawa tawa Disaat tawa akan kembali menjadi tangisan Disaat setiap detik adalah kebersamaan yang membuat kenangan Kesatuan yang berharga dan membuatnya bersinar Disaat aku merekamnya dengan mata Lalu kusimpan disuatu tempat dalam diri ini Aku tidak mau dia tenggelam oleh debu dan menjadi using Tolong… aku mohon… Agar besok… aku bisa membukanya kembali, setidaknya untuk diriku sendiri Aku mohon… Agar besok… besok… besok… dan besok… aku masih bisa membukanya kembali 23042017