Langsung ke konten utama

Postingan

Saya Pamit Undur

Dalam jalan yang tertapak dengan langkah tangguh, harus kembali, dan terpukul mundur oleh angin kencang yang sebelumnya berhembus damai, aku titipkan salam dan doa selamat pada ranting yang aku tinggalkan oleh daun-daun yang berguguran. Terimakasih atas kesempatannya, dengan ini, pamit undur  16022022

Epilog: Paradoks Maya

Sebagai perantara pesan, aku berkelana dari satu mimpi ke mimpi yang lain, singgah sebentar dan beranjak pergi. Apa yang kau ingat dari kenangan-kenangan yang terekam? Nama tempat, nama permainan, nama teman atau kejadian, adalah hal-hal yang lambat laun mungkin akan terlupa. Tapi tidak dengan rasa! Kaulah yang memiliki kuasa atas dirimu sendiri, dan kau akan menyadari, betapa indahnya memori yang selama ini kau kubur, untuk menyambut sebuah kedatangan kembali. Sampai detik ini aku bertahan, dan sampai detik ini aku menghantarkan maya melalui mimpimu, berharap membakar paradoksmu, biarkan ia menjadi abu, dan kembali ketanah.

Temu

Langkah kaki ringan Yang menuntun pada sebuah pertemuan Yang tak pernah disangkakan Membangkitkan kenangan Wajah yang serupa ingatan Suara yang tak terlupakan Kita buka ruang bicara Sedikit basa-basi yang tak pernah basi tentang kabar kita sekarang Lalu, bicara tentang hari kemarin Tak terasa dipenghujung waktu Apa yang harus aku katakan? Sampai jumpa? Ataukah selamat tinggal

Jalan cahya

Pagi hari menyapa Saatnya menarik mimpi keluar dari belukarnya Kelopak mata masihlah terpejam Sebuah tarikan nafas Dan sebuah senyuman Ungkapan syukur atas hari yang baru Jalanku semakin terang Dan takbisa kupungkiri Hangatnya kini makin menusuk kulit Tak kujadikan persoalan Demi menggapai tujuanku diujung jalan Tujuan yang menjadi harapan Jangan sampai menjadi mimpi belaka Cahayaku Terangi jalanku Jangan sampai menyilaukan mata Membutakan hati Agar kelak Aku mampu berpendar Menjadi setitik cahaya dalam kegelapan

Wacana

Wacana Rencana jadi wacana Wacana jadi bencana Berita jadi buaian basa-basi yang benar-benar basi Kamu, lebih memilih bungkam seolah tak tahu apa-apa Dan dia, mengamati seolah bukan perkara untuknya Mudah lidahnya berucap karena tak bertulang Hati nuraninya terlalu mahal untuk mengingat janji yang sudah terlanjur tertuang Apalagi akalnya, tak ada ruang! Kecuali untuk dirinya sendiri! Sedang aku dalam ruang tunggu Dengan sebaris antrian fiktif!

Di suatu pagi

Di suatu pagi Ketika terbangun disuatu pagi Mata enggan terbuka Belumlah siap menghadapi kenyataan yang sudah mengetuk Air mata, terus saja menerobos bendungan tanpa tahu permisi Pagi itu, hangatnya mentari membawa kesedihan untukku Semua yang terjadi, seolah merapal mantra dan mencipta ilusi Waktu kita tak lama lagi Bahkan Aku berharap, agar petang tak datang Dan menghambur semua kenangan Hilang 21 April 2019

• S E P E R T I •

• S E P E R T I • Seseorang yang memeluk Yang memapah saat terpuruk Namun, disana tak kulihat darah yang menjejak Diatas jalan yang telah tertapak Perlahan Kau bekaskan bilur dengan senyuman Sungguh, aku tidak peka Mungkin aku terbius dengan apa yang tampak Hingga tak mampu meraba watak Dalam ikatan 'dekap' yang sangat erat Aku 'tersekap' tak kuasa menjerit Sakit jadi 'alibi' Namun, bukanlah obat penyembuhnya Hanya takut 'rupa' Membuat 'jera' Seperti April 2019

Waktu

Waktu adalah pedang, Dengan kedua sisinya Yang menghamparkan jarak, Namun juga mampu memangkasnya Yang berujung pada 'rindu' Entah.. Bagaimana kelanjutannya Apakah ego yang bermain, Atau mengalah pada rasa

Hanya sebuah narasi tentang masa SD, SMP, dan SMA

12 tahun yang lalu, aku berangkat kesekolah diantar ayah atau ibu, lengkap dengan seragamku yang berwarna merah putih, tak ketinggalan dasi dan topiku pun kupakai, dan jangan lupakan rambutku yang sudah ditata rapi oleh ibu. Kugenggam erat tangan mereka, rasanya aku takut, malu, sekaligus semangat, diwaktu yang sama. Suasana sekolah yang pertama kali aku rasakan, punya guru-guru yang kuanggap orang tua disekolah, berjumpa dengan banyak sekali kawan baru. Dan aku punya teman sebangku yang sangat baik. Masa itu kita melukis berjuta warna, tak lupa pula kita mulai merajut berjuta kisah bersama dengan seragam merah-putih. Kita bermain bersama dan tertawa riang. Saat aku harus berlari menghindari sergapan sang kucing, dan jangan lupakan hulahop yang bentuknya seperti donat kesukaanku. Aku rasa kita hampir memainkan semua permainan masa itu. Tak terasa enam tahun telah kulalui, kini seragamku berganti menjadi putih-biru, sekarang aku seorang siswa SMP, yang mereka bilang masa anak ABG, ali...

Topeng

Topeng Putih sudah tercemar Hitam tak lagi pekat Yang kulihat hanyalah topeng-topeng kemunafikan Karakter mana yang kau bicarakan? Saat kau bilang semua hanya formalitas tanpa batas Sungguh, kau telah kehilangan identitas! Menjadi bebas, lebih tepatnya liar hah! Tak menemukan batasan, malah kebablasan! Sungguh molek kau berdandan Mengelabui seperti bunglon Sekarang kau macam tirani! Entah apa yang menyambut nanti Sudah cukup sampai disini Cukup tahu siapa pelakon semua ini! Jangan melangkah lebih dekat lagi! Bontang, 04 April 2019

RSVP Reuni

          RSVP Reuni Bukan aku tak ingin bertemu Reuni tentang masa lalu Tapi aku takut dengan hatimu Akan terluka dengan hadirku Aku takut wajahku, suaraku Akan membangkitkan kenangan kelammu Kesalahanku dahulu ... Yah, entah ada apa hari itu Kesalahan terus saja bertandang padaku Kesalahan yang memudarkan senyumanmu hari itu Kesalahan yang membuatmu membisu dihadapanku Yang membuatku tergagu disekitarmu selama seminggu Kurasa mereka juga memperlakukanku sama sepertimu Meskipun prasangkaku bilang, sekarang keadaan sudah baik-baik saja Mereka sudah kembali tersenyum Mau menyapa saat bertemu sepintas lalu Tapi ingatanku belum pudar, masih begitu pekat akan hari itu Aku tak ingin merusak suasana disana Ada dan tiadanya dirikupun, rasanya tak akan terlalu berpengaruh Seperti biasanya... Aku hanya ingin 'indah' yang dikenang 'Pahit' maaf sepertinya kau harus bersamaku saja sendiri Untuk RSVP reuni yang akan datang Bontang...

Hakikat Merah

               Hak ikat Merah Jika bertemu dilampu lalu lintas Artinya kau harus berhenti sejenak Barangkali untuk mengambil nafas dengan bebas Memikirkan dengan bijak Apakah arah tujuan sudah tepat Merahpun selalu dikaitkan dengan darah Tak jarang pula dengan api yang membara Agar semangat didalam nadi tetap berkobar Karena, perjuangan yang mungkin membekaskan bilur Telah menanti didepan mata Merah juga kadang disangkut pautkan dengan mawar Mungkin, ini belum waktunya bagiku Untuk mekar merekah Kemudian... Orang bilang, merah adalah pertanda marah Tapi aku tidak marah, hanya sedikit kecewa Dari yang kau cap merah Bontang, 22 Maret 2019

Ini ( . )

                       Ini ( . ) Titik ini mengakhiri sebuah kalimat Titik ini mengakhiri sebuah paragraf Titik ini sebuah salam perpisahan Kepada semua mata yg pernah singgah Dan jiwa yang pernah dijamah Titik ini mengakhiri sebuah kisah Untuk benar-benar berakhir Namun... masih berharap melahirkan kisah yang baru Sebuah asa dari titik Bontang, 20 Maret 2019

Banyak Bicara

Banyak Bi cara Tiba-tiba saja kau banyak bicara Setiap benda didepan mata jadi topik utama Kenapa? Rupanya... Kau menghindari sebuah 'topik' Dan menimbunnya dengan topik yang 'lain' Yah... Aku tahu itu Hanya saja itu sangat nampak Malah lebih mencuri gakan Kenapa tidak bersikap biasa saja Seolah tak ada apa-apa Belajar menata emosi Agar dapat bertopeng lebih baik lagi Bagaimana jika nanti topik 'itu' terucap? Muncul tak sengaja karena banyak cakap Upssss.... Bontang, 20 Maret 2019

Orang Ke-3

                      Orang Ke-3 Hanya orang ke-3 Diantara kau dan dia Yang tak mungkin menjadi kita Bagai sebuah jembatan Aku memisahkan kalian diujung-ujungnya Layaknya filosofi jembatan Aku harap mampu mempertemukan langkah kalian Aku sudah membentang Siap ditantang, untuk dipijak Lalu, siapa diantara kalian yang lebih bijak? Atau mungkin kalah telak? Oleh ego yang semakin riskan Siapa yang sudi untuk melangkah terlebih dahulu? Merajut hati yang telah patah Aku tetaplah jembatan bagi kalian Saat sebuah senyuman masih asing Jika kalian telah mampu bergandeng tangan Aku akan hilang secara perlahan Bersama tawa kalian yang melebur pelan Aku akan hilang Bontang, 19 Maret 2019

Hari Ini!

Hari Ini! Berdiri antara maya dan realita Telah surut namun berhasrat kembali pasang Mencari pelangi dalam hitam Memeluk angkara dalam senyuman Dalam hening Nyanyian hati mengalir syahdu Siapa berani menggerogoti kerangka falsafah? Jika karsa sudah menghujam Tanpa tahu dimana ujungnya Bontang, 17 Maret 2019

Siapa 'Aku'? Siapa 'Ia'?

Siapa 'Aku'? Siapa 'Ia'? Untuk melegakan relung hatimu Yang sesak tak terbendung Aku siap menjadi telinga Mendengar keluh kesah, dari segala asa Aku siap menjadi bahu Tempatmu bersandar, berbagi beban dari hari itu Aku siap menjadi raga Tempat berlindung semua rahasia Tapi maaf Aku tak bisa menjadi sebuah jiwa Tersenyum bersama, sebagai respon cerita bahagia Turut bersedih atas cerita duka Merasa perih dari sebuah luka Untuk itu, berikan aku kepada dia Biar ia lihat cerita yang ada Kau nikmati saja respon yang tercipta Karena hanya ia yang bisa Tempatmu berkomunikasi dua arah 'Ia' adalah pelengkap dari 'aku' Bontang, 16 Maret 2019

Remaja Tangguh!

Remaja Tangguh! Mereka bilang masa SMA Adalah masanya remaja tangguh Tak lagi seperti dulu Seorang remaja tanggung Entah kenapa aku merasa canggung Dengan segala revisi diri yang datang Apakah hanya aku seorang? Yang masih tertinggal dibelakang Atau justru sendiri menghadapi masa yang akan datang Bontang, 12 Maret 2019

PULANG      HILANG      KOSONG

    PULANG      HILANG    KOSONG Awalnya suasana begitu riuh Canda tawa bergema, tak peduli meski berpeluh Orang lain melirik? Tetap tak acuh Serasa dunia milik sendiri, yang lain hanyalah singgah Hingga alaram berbunyi Pertanda harus segera diakhiri Menyegerakan membuat kenangan terakhir kali Satu persatu mulai menepi Mereka pulang kembali kejalurnya sendiri Semua raga yang pernah ada Semua atmosfer yang telah tercipta Hilang tak berbekas, sirna seketika Sekarang yang tertinggal hanyalah meja dan bangku yang lengang Dan memori yang pernah bertandang Kosong Hanya mereka yang bisa mengisi kembali Dan memutar kembali semua memori Kosong Btg, 10 Maret 2019