Langsung ke konten utama

Postingan

Epilog: Paradoks Maya

Sebagai perantara pesan, aku berkelana dari satu mimpi ke mimpi yang lain, singgah sebentar dan beranjak pergi. Apa yang kau ingat dari kenangan-kenangan yang terekam? Nama tempat, nama permainan, nama teman atau kejadian, adalah hal-hal yang lambat laun mungkin akan terlupa. Tapi tidak dengan rasa! Kaulah yang memiliki kuasa atas dirimu sendiri, dan kau akan menyadari, betapa indahnya memori yang selama ini kau kubur, untuk menyambut sebuah kedatangan kembali. Sampai detik ini aku bertahan, dan sampai detik ini aku menghantarkan maya melalui mimpimu, berharap membakar paradoksmu, biarkan ia menjadi abu, dan kembali ketanah.

Temu

Langkah kaki ringan Yang menuntun pada sebuah pertemuan Yang tak pernah disangkakan Membangkitkan kenangan Wajah yang serupa ingatan Suara yang tak terlupakan Kita buka ruang bicara Sedikit basa-basi yang tak pernah basi tentang kabar kita sekarang Lalu, bicara tentang hari kemarin Tak terasa dipenghujung waktu Apa yang harus aku katakan? Sampai jumpa? Ataukah selamat tinggal

Jalan cahya

Pagi hari menyapa Saatnya menarik mimpi keluar dari belukarnya Kelopak mata masihlah terpejam Sebuah tarikan nafas Dan sebuah senyuman Ungkapan syukur atas hari yang baru Jalanku semakin terang Dan takbisa kupungkiri Hangatnya kini makin menusuk kulit Tak kujadikan persoalan Demi menggapai tujuanku diujung jalan Tujuan yang menjadi harapan Jangan sampai menjadi mimpi belaka Cahayaku Terangi jalanku Jangan sampai menyilaukan mata Membutakan hati Agar kelak Aku mampu berpendar Menjadi setitik cahaya dalam kegelapan

Wacana

Wacana Rencana jadi wacana Wacana jadi bencana Berita jadi buaian basa-basi yang benar-benar basi Kamu, lebih memilih bungkam seolah tak tahu apa-apa Dan dia, mengamati seolah bukan perkara untuknya Mudah lidahnya berucap karena tak bertulang Hati nuraninya terlalu mahal untuk mengingat janji yang sudah terlanjur tertuang Apalagi akalnya, tak ada ruang! Kecuali untuk dirinya sendiri! Sedang aku dalam ruang tunggu Dengan sebaris antrian fiktif!

Di suatu pagi

Di suatu pagi Ketika terbangun disuatu pagi Mata enggan terbuka Belumlah siap menghadapi kenyataan yang sudah mengetuk Air mata, terus saja menerobos bendungan tanpa tahu permisi Pagi itu, hangatnya mentari membawa kesedihan untukku Semua yang terjadi, seolah merapal mantra dan mencipta ilusi Waktu kita tak lama lagi Bahkan Aku berharap, agar petang tak datang Dan menghambur semua kenangan Hilang 21 April 2019

• S E P E R T I •

• S E P E R T I • Seseorang yang memeluk Yang memapah saat terpuruk Namun, disana tak kulihat darah yang menjejak Diatas jalan yang telah tertapak Perlahan Kau bekaskan bilur dengan senyuman Sungguh, aku tidak peka Mungkin aku terbius dengan apa yang tampak Hingga tak mampu meraba watak Dalam ikatan 'dekap' yang sangat erat Aku 'tersekap' tak kuasa menjerit Sakit jadi 'alibi' Namun, bukanlah obat penyembuhnya Hanya takut 'rupa' Membuat 'jera' Seperti April 2019

Waktu

Waktu adalah pedang, Dengan kedua sisinya Yang menghamparkan jarak, Namun juga mampu memangkasnya Yang berujung pada 'rindu' Entah.. Bagaimana kelanjutannya Apakah ego yang bermain, Atau mengalah pada rasa